Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Tatwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tatwa. Tampilkan semua postingan

Tujuan Hidup menurut Hindu

Dharma artha kama moksanam sariram sadhanam
( Brahma Purana 228.45 )

Seperti menaiki sebuah tangga dengan 4 buah anak tangga
Tatah swayambhurbhagawan
Awyaktowyanjayannidam
Maha bhutadi wrttaujah
Predurasitta manudah (  Weda Smrthi Bab I.6 )
Artinya :
Kemudian dengan kekuatan tapa-Nya, Ia yang Maha ada menciptakan ini,
Maha butha ( unsur alam semesta ) dan lainnya nyata terlihat  melenyapkan kegelapan
So, bhidhyaya carirat
Swatsisrksur wiwidhah prajah,
Apa ewa sasarjadan tasu   (  Weda Smrthi Bab I.6 )
Artinya :
Ia yang menciptakan berbagai ciptaan ,
menjadikan dirinya sendiri,
diciptakannya mahluk-2 hidup yang beraneka ragam ,
mulai dengan memikirkannya,
diciptakannya air  dan meletakkan benih ke dalam

a)    Berdasarkan sloka tersebut diatas, maka dengan kekuatan tapanya Hyang Widhi beryadnya, mengorbankan dirinya untuk  menciptakan 

b)   Alam dan isinya termasuk kita, sehingga dalam perjalanan hidup manusia agar memproleh kebahagiaan  dibutuhkan tuntunan dan bantuan  Hyang Widhi dan alam sekitar, Rochaniawan, para pendahulu kita . Beliau telah mengorbankan dirinya kepada kita maka kitapun  wajib membalasnya seakan kita membayar hutang kepada beliau kendatipun beliau tidak mengaharapkannya. Hutang tersebut dalam Hindu disebut 

c)    Tri Rna ( 3 hutang ) yaitu : Dewa Rna ( Hutang kepada Hyang Widhi ), Rsi Rna ( Hutang kepada Pemuka agama, Pitra Rna ( hutang kepada leluhur, orang tua dan antar manusia ).

d)   Dalam mencapai tujuannya  manusia tidak terlepas dari gangguan gelombang kehidupan yang menerpanya ( Sad Ripu, Sapta Timira  dll ), sehingga  agar tidak  tenggelam dalam gelombang Asuri Sampad dibutuhkan pedoman hidup sebagai kompas mengarungi pasang surutnya gelombang kehidupan sebagai stabilisator hidup ;  dengan melaksanakan tiga gerak atau prilaku yang baik dan benar yang disebut 

e)    Tri Kaya Parisuda ( Manacika = pikiran, Wacika = perkataan dan Kayika = prilaku yang baik dan benar ) sebagai INPUT,  dengan strategie pelaksanaannya YANG SISTEMIK  melalui 4 jalan yaitu 

f)    Catur Marga  : Karma Marga ( prilaku terpuji ), Bhakti Marga ( sembahyang dan doa ) , Jnana Marga ( Ilmu pengetahuan ) dan Raja Marga ( tapa brata ,Yoga semadi  ) . Dengan catur marga diharapkan Tri Rna DAN tujuan manusia dapat tercapai melalui proses atau korban suci  yang disebut  dengan :g)   Panca Yadnya yaitu : Dewa Yadnya, resi yadnya, Manusia yadnya, Pitra Yadnya dan Butha Yadnya. Dengan terlaksananya Panca Yadnya maka akan terlahir manusia yang budiman ( beriman ) sebagai out put, sehingga bermanfaat ( benefit ) karena akan tercipta keseimbangan hubungan manusia dengan Hyang Widhi , hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan.( Tri Hita Karana )

h)   Dengan kebajikan/Iman sebagai landasan utama maka tujuan manusia Hindu akan tercapai seperti halnya sebuah tangga dengan empat anak tangga. Kita menapaki anak tangga itu satu demi satu supaya kita sampai diatas dengan selamat. Kita tidak boleh melompat atau mengabaikan salah satu anak tangga. Hindu dilatih hidup dengan terencana tahap demi tahap sehingga out comenya adalah : Darma, Arta dan Kama ( Tujuan Keluarga Hindu ) sesuai kitab suci Weda ( Brahma Purana 228.45 ).

Kita awali  hidup ini dari tangga pertama yaitu : Kebajikan ( virtues ) atau kebenaran ( Darma ) sebagai landasan utama, selanjutnya tangga ke dua yaitu : Keberhasilan ( sukses ) dalam pengertian pemenuhan kebutuhan atau harta. Dari harta akan terwujud rasa kepuasan, kesenangan ( pleasure ) atau kama, tetapi kalau kita melompati salah satu anak tangga apalagi kita hanya berpijak hanya pada Arta dan Kama, maka tujuan hidup kita  akan penuh kepalsuan, kesedihan,penderitaan, kegagalan karena tidak dilandasi oleh Dharma tapi keangkaramurkaan.

i)     Apabila setiap langkah kita landasi dengan Dharma maka dampaknya ( Impact ) dan endingnya adalah : Moksartham Jagadhita Ya. ca Iti Dharma ( Kebahagiaan lahir dan bathin ). Makanya sertakan Tuhan dalam setiap Langkahmu..

Kesimpulannya :
 Input ( Darma/Tri Kaya Parisuda ), Proses ( Panca Yadnya ), Out Put ( Manusia Budiman ), Out Come ( Arta & Kama diperoleh berdasarkan Darma ), Manfaatnya / Benefit  ( Tri Hita Karana ) , Dampaknya ( Impactnya ) : kebahgian lahiriah batiniah sebagai tujuan akhir.
       
Om Santih, Santih, Santih, Om                                                     

 Pati, MARET 2010 
 I Gst Putu Suardika
 

Gayatri Mantram, Menangkal & Mengobati Ilmu Hitam

Om Swastiastu
Berdoa dan sembahyang adalah kewajiban kita sebagai mahkluk Tuhan sebagai ungkapan rasa syukur, memohon keselamatan dan kebahagiaan rohani/spiritual. Agama adalah jalan menuju kepada-Nya, dan setiap agama ada suatu ungkapan kata-kata indah dan relegius sebagai sarana komunikasi mendekatkan diri kepada Beliau Yang Maha Esa. Semua kata-kata suci tersebut tercantum dalam kitab suci agama masing-masing.

Dalam agama Hindu secara universal kita mengenal yang namanya mantra/mantram. Mantra bukanlah hanya sekedar nyanyian kata-kata, namun sebagai sarana memusatkan pikiran menuju alam kebahagiaan spiritual Tuhan/Sang Hyang Widhi dan sebagai sarana komunikasi yang mempunyai nilai yang sangat religius. Mantra tidak hanya diucapkan berkali-kali tetapi juga harus dimengerti dan direnungkan. Dengan begitu anda akan dapat merasakan kebahagiaan spiritual menuju kepada Hyang Widhi.


Mantra yang paling penting kita kenal dan merupakan pokok atau ibu dari semua mantra dan weda adalah mantram Gayatri. Mantra Gayatri juga menjadi bagian dalam mantra Tri Sandhya yang menjadi mantra persembahyangan umat Hindu di Bali.

Mantram Gayatri juga dinyatakan sebagai Ibu dari segala mantram, Gayatri juga disebut sebagai doa yang universal yang terdapat dalam Kitab Suci Weda, baik Reg Weda, Yajur Weda maupun Sama Weda. Mantra ini dapat dipergunakan untuk memohon kejernihan akal budi agar tercipta kebenaran tanpa penyimpangan. Mantram Gayatri dianggap sebagai intisari dari seluruh ajaran weda, sehingga ada orang yang menyatakan bahwa sesungguhnya orang tidak perlu mengucapkan Mantram aapun selain Gayatri Mantram.


Gayatri  Mantram untuk pengobatanBanyak orang yang mengatakan bahwa mantram Gayatri sangat ampuh digunakan sebagai pengobatan, dan dibawah ini ada beberapa cara pengobatan menggunakan Gayatri mantram :
A. Kalau terkena sihir ilmu tenung leak dll,Pegang air dalam gelas depan dada,satukan cipta rasa degan membayangkan kuasa tuhan sambil menarik nafas,umpamakan menrik air api angin,lalu rasakan ,asuk ketubuh dan bersemayam dijantung.ucapkan gayatri mantram dengan menahan nafas 11 kali,kemudian ucapkan om 11 kali, lalu barulah air diminum.dan mengusapkan keseluruh tubuh.lakukan sampe sakit hilang.

B. Menghilangkan keresahan galau dan takut.
:Rasakan saat menarik nafas dan mengeluarkan sambil merasakan suara om,sampai tarik nafas hitungan ke 9x.lalu ucapkan gayatri mantra dlm hati sungguh2 9x.lalu hembuskan nafas dan usap seluruh tubuh.

C.menghilangkan serangan ilmu hitam,dan gangguan mahluk halus.
ucapkan gayatri mantra sebelum tidur 3x.bangun pagi 7x,ketika menginjakkan kaki ucapkan om sambil berjalan beberapa langkah.lakukan seumur hidup


Namun demikian, dengan lebih sering berjapa Gayatri Mantram kita akan sedikit demi sedikit dapat mencapai kesucian itu. Teruslah berjapa dan jangan pernah bosan. Lambat tapi pasti, ketenangan jiwa akan mulai terasa.

Mantra Gayatri melindungi kita karena Gayatri adalah Annapurna, Ibu Jagat Raya, kekuatan yang menjiwai segala kehidupan. Bila kita dilindungi Annapurna, Tuhan sebagai Ibu, kita tidak perlu menangis untuk pangan atau papan. (Karena itu, kita harus mengucapkan Mantra Gayatri sesering mungkin. Semakin banyak kita mengucapkan Mantra Gayatri, semakin besar manfaatnya bagi kita.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Daftar Pustaka :
 

Tanya Jawab Pelaksanaan Tri Sandhya

Om Swastiastu

QUESTION:


1.  Apa dasar pelaksanaan Tri Sandhya itu? Apakah langsung dari Weda, lontar, atau apapun itu yang tersurat atau tersirat mohon diinformasikan. Dan disampaikan juga kepada saya sumber yang menyatakan untuk melaksanakan Tri Sandhya tersebut.
2. Waktu Pelaksanaan Tri Sandhya sebaiknya jam berapa saja?
3. Tata cara pelaksanaan Tri Sandhya? Apakah setiap saya akan Tri Sandhya harus mandi dulu. Bagaimana “wudu” sebelum Tri Sandhya? Bagaimana pakaian yang dianjurkan? Apakah harus menggunakan “senteng”?
4. Bagaimana jika saya berada di Kantor, di mana saya harus melaksanakan Tri Sandhya? Kalo di rumah, Tri Sandhya dilakukan di mana sebaiknya: Kamar Tidur (di atas tempat tidur), kamar suci tersendiri, di Merajan, Depan Plangkiran.
5. Apakah wajib pake dupa?
6. Seandainya saya tidak melaksanakan Tri Sandhya pada siang hari, apakah bisa dirapel pada sore harinya?

ANSWER:

1. Puja Trisandya disusun di Bali pasca G-30-S (1967) oleh beberapa tokoh/ pemuka agama antara lain:

    I Gst Bagus Sugriwa (alm)
    Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (alm)
    Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (alm)
    I Ketut Bangbang Gde Rawi (alm)

dengan mengambil sumber dari: Gayatri Mantram (bait 1), Narayana Upanisad (bait 2), Weda Parikrama (bait 3,4), dan Lontar Siwa Tattwa Purana (bait 5,6).

Oleh karena berbentuk campuran antara beberapa mantram Weda dan Wedangga, maka disebut “Puja”.

Puja Trisandya dianjurkan ke masyarakat untuk meningkatkan srada yang ketika itu sedang porak-poranda oleh gerakan komunis. Maka mulailah didengungkan ke sekolah-sekolah, Pura, dll. Kini sudah memasyarakat.

2. Tidak ada ketentuan jam, hanya berdasarkan “dauh” yakni, pagi: antara jam 05.30 – jam 6.30, siang: 11.30 – 12.30, malam: 17.30 – 18.30

3. Tata cara pelaksanaan Tri Sandhya

    Cuci kaki, tangan, muka, kumur-kumur, dengan mantram-mantram (lihat website saya: Doa Sehari-hari Menurut Hindu).
    Kalau di rumah/ Pura berpakaian adat (untuk etnis Bali), kalau di tempat lain, menurut keadaan.

4. Di Kantor, cari tempat yang tenang. Sedang di perjalanan, sikap duduk biasa, ucapkan dalam hati atau kalau mungkin boleh bersuara

5. Kalau memungkinkan bagus, kalau tidak nggak apa-apa tanpa dupa

6. Boleh. Keleluasaan itu mungkin mengherankan dan berbeda menurut ajaran agama lain. Ini karena Hindu bukanlah “agama doktrin” tetapi Hindu itu agama yang sangat toleran dan fleksibel.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : http://stitidharma.org/pelaksanaan-tri-sandhya/
 

FUNGSI PURA MELANTING DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT HINDU BALI



Om Swastiastu
"Sebelum dibaca postingan puniki, mohon bantuannya untuk melike Fanspage/halaman puniki dengan mengklik like/suka di pojok kanan atas dan jika dirasa bermanfaat bisa dishare ke semeton lainnya".

Masyarakat Hindu di Bali adalah masyarakat yang sosial religius, yang selalu berhubungan erat dengan alam Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), sehingga banyak dijumpai pura-pura sebagai tempat pemujaan terhadap manifestasiNya yang sesuai dengan fungsinya bagi masyarakat Hindu seperti pelinggih, penunggun karang, pura dadia, sanggah kemulan, pura khayangan tiga dan lain-lain. Pura Melanting adalah salah satu pura yang bersifat fungsional sebagai tempat dari pemujaan Bhatari Melanting. Bhatari Melanting dapat disejajarkan dengan Dewa Kwera (dewanya uang) yang di Bali lebih dikenal dengan sebuah Bhatari Rambut Sedana. Adapun yang berwujud sebagai Bhatari Melanting adalah Ida Ayu Subawa yaitu putri dari Dang Hyang Nirarta yang telah berubah wujud. Pura Melanting terletak di pojok timur laut, mengarah ke pasar dan ada juga Pura Melanting itu terletak di tengah-tengah pasar. Yang memuja dan yang bertanggung jawab terhadap Pura Melanting adalah orang-orang yang terlibat didalam kegiatan pasar, baik pedagang, maupun buruh bertanggung jawab terhadap Pura Melanting beserta piodalannya.

Pura Melanting adalah termasuk aspek agama dan kebudayaan yang sangat penting kedudukannya dalam kehidupan masyarakat untuk menyediakan Bhoga, Upa Bhoga dan Pari Bhoga, menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Pasar adalah salah satu tempat untuk beraktifitas untuk mengejar Jagathita (kebahagiaan jasmani) seperti tempat menyediakan bahan sandang, pangan dan papan dan tidak mengabaikan kepentingan rohani dengan pura Melantingnya. Dengan adanya kemajuan teknologi pasar telah banyak mengalami perubahan-perubahan baik dari sarana prasarananya namun dengan demikian juga halnya keadaan pura Melanting dari bentuk sederhana menuju bentuk yang lebih permanen. Walaupun demikian tidak merubah fungsi terhadap pura melainkan tetap mempertahankan fungsinya sebagaimana mestinya oleh masyarakat Hindu dan nilai-nilai keagamaannya sama sekali tidak luntur terbukti masih adanya kepercayaan kepada Bhatari Melanting. Hal ini pula menjadikan salah satu gaya tarik pulau Bali terhadap para wisatawan.


Definisi Pura Melanting


Pura Melanting adalah merupakan salah satu tempat pemujaan umat Hindu di Bali. Pura tersebut bersifat fungsional sebagai stana (pelinggih) Bhatari Melanting. Bhatari Melanting dari segi niskala sebagai kepala pimpinan "Wong Samar" yang menguasai seluruh jagat raya ini, sedangkan ditinjau dari segi rohani beliau bertugas melindungi/mengayomi para pedagang dan memberikan keselamatan warga masyarakat pada setiap Bale Banjar dan setiap pasar-pasar yang ada di Bali.


Arti dan Pengertian Melanting


Kata Melanting berasal dari kata mel dan anting. Kata mel berarti kebun, di samping itu kata mel berarti sifat tidak ramah, berat mulut, mel juga berarti lembab. Sedangkan kata anting berarti batu. Dari kata anting menimbulkan kata anting-anting yang artinya:
  1.  Perhiasan telinga yang terbuat dari emas.
  2.  Batu seperti bandul.
  3.  Burung anting (nama burung).

Jadi dapat disimpulkan bahwa kata Melanting dapat dipisahkan menjadi kata "mel" dan kata "anting". Mel berarti kbun dan anting berarti bergantungan pada tali. Melanting adalah suatu tempat persembahan hasil bumi yang dipersembahkan kehadapan Ida Ayu Swabawa sebagai Bhatari Melanting (Dewa yang menguasai pasar). Pasar adalah tempat pertemuan antara penjual dengan pembeli untuk mengadakan tawar menawar (transaksi) sehingga terdapat persetujuan kedua belah pihak. Melanting adalah tempat persembahan/persembahyangan untuk menghaturkan segala hasil bumi sebagai ucapan terima kasih kehadapan Bhatari Melanting yang beristana di sana serta memohon keselamatan sehingga tidak diganggu oleh wong samar.


Fungsi Pura Melanting Dalam Kehidupan Masyarakat Hindu di Bali


Pengertian Pura Melanting


Pura Melanting adalah merupakan tempat para pedagang untuk memohon keselamatan, ketentraman lahir batin sehingga pada saat berdagang dapat memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diinginkan. Pura Melanting pada umumnya didirikan di dalam setiap pasar di Bali.

Fungsi Pura Melanting Dalam Hubungannya dengan Pasar

Antara Pura Melanting dengan pasar mempunyai hubungan yang sifatnya saling tunjang menunjang sehingga terwujudnya jual beli antara para pedagang dengan pembeli baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : http://baliohbali.blogspot.com/2010/02/fungsi-pura-melanting-dalam-kehidupan.html
 

Memahami Pengertian Pura Kawitan


Om Swastiastu
"Sebelum dibaca postingan puniki, mohon bantuannya untuk melike Fanspage/halaman puniki dengan mengklik like/suka di pojok kanan atas dan jika dirasa bermanfaat bisa dishare ke semeton lainnya".


Dilihat dari segi fungsinya, ada 2 (dua) jenis pura yaitu: Sebagai tempat memuja Hyang Widhi(Dewa Pratistha) dan sebagai memuja roh suci leluhur(Atma Pratistha).  Ditinjau dari sisi karakternya, pura dibagi lagi menjadi empat kelompok yaitu: Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina dan Pura Kawitan.
Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh suci leluhur dari umat Hindu yang memiliki ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis keturunannya. Jadi Pura Kawitan bersifat spesifik atau khusus sebagai tempat pemujaan umat Hindu yang mempunyai ikatan darah sesuai dengan garis keturunannya. Contoh-contoh pura yang termasuk dalam kelompok Pura Kawitan antara lain: Sanggah/Merajan, Pura Ibu, Dadia, Pedharman, dan yang sejenisnya.
Pura Panti dan Pura Dadia pada dasarnya berada pada kelompok dan pengertian yang sama. Artinya apa yang dimaksud dengan Pura Panti dapat pula disebut dengan Pura Dadia. Sama halnnya dengan sebutan sanggah dapat pula disebut dengan istilah merajan. Yang membedakannya hanyalah terletak pada jumlah penyiwi atau pemujanya.
Di dalam lontar sundarigama bahwa: Bhagawan Manohari, beliau beraliran Siwa mendapatkan tugas dari Sri Gondarapati, memelihara dengan baik Sad Kahyangan kecil, sedang dan besar, sebagai kewajiba semua orang. Setiap 40 pekarangan rumah(keluarga) disabdakan mendirikan panti, adapun setengah dari jumlah tersebut(20 keluarga) agar mendirikan Palinggih Ibu, kecilnya 10 pekarangan keluarga mendirikan palinggih Pratiwi(Pertiwi) dan setiap keluarga mendirikan Palinggih Kamulan(sanggah/merajan).
Diluar isi yang tersurat diatas tetapi masih termasuk dalam kelompok Pura Kawitan adalah Pedharman yang dipandang sebagai tempat pemujaan tertinggi untuk memuja leluhur. Apakah dalam satu pedharman umat Hindu saling mengenal satu dengan yang lainnya? belum tentu. karena keturunan yang sekarang adalah keturunan yang kesekian puluh kalinya dari leluhur yang bersangkutan. Tentu berbeda jika bersembahyang di Pura Kawitan yang tergolong sanggah sampai Pura Panti masih dapat saling mengenal karena akan lebih mudah menemukan hubungan keluarga dalam susunan keluarganya. Dewasa ini banyak umat Hindu yang berusaha mencari jejak silsilah atau asal muasal leluhurnya sampai keberadaannya. Hal ini tentu sangat positif untuk menumbuhkembangkan ajaran Pitra Puja dimana kita diwajibkan untuk selalu bhakti/menghormati kepada para leluhur yang telah suci(Atma Sidha Dewata).

Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : http://paduarsana.com/2012/08/06/memahami-pengertian-pura-kawitan/
 

Pelangkiran

Pelangkiran

Om Swastiastu
"Sebelum dibaca postingan puniki, mohon bantuannya untuk melike Fanspage/halaman puniki dengan mengklik like/suka di pojok kanan atas dan jika dirasa bermanfaat bisa dishare ke semeton lainnya".

Pelangkiran berasal dari kata "langkir" artinya tempat memuja; yang malinggih di pelangkiran kamar tidur adalah Sang Kanda Pat yaitu : kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa yang senantiasa menyertai diri kita sejak di kandungan sampai mati bahkan sampai Atman kita menghadap Sang Pencipta.

Mereka adalah : 1. Yeh Nyom yang menjadi Bhuta Anggapati berkedudukan di kulit. 2. Darah yang menjadi Bhuta Prajapati berkedudukan di darah. 3. Ari-ari yang menjadi Bhuta Banaspati berkedudukan di daging. 4. Lamas yang menjadi Bhuta Banaspatiraja berkedudukan di urat.

Dalam lontar "Aji Maya Sandhi" disebutkan ketika manusia sedang tidur maka Kanda Pat itu keluar dari tubuh manusia dan bergentayangan, ada yang duduk di dada, di perut, di tangan dsb. sehingga mengganggu tidur manusia; oleh karena itu perlu dibuatkan pelangkiran untuk stananya agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai "penunggu urip".

Jika itu dilaksanakan maka manusia akan tidur dengan tenang dan nyenyak karena sudah ada yang menjaga dari segala bentuk gangguan roh jahat. Di dalam pelangkiran itu letakkan tegteg daksina sebagai linggih mereka berempat, dan setiap purnama diperbaharui.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : http://pasektangkas.blogspot.com/2007/11/pelangkiran.htmlOm Swastiastu
"Sebelum dibaca postingan puniki, mohon bantuannya untuk melike Fanspage/halaman puniki dengan mengklik like/suka di pojok kanan atas dan jika dirasa bermanfaat bisa dishare ke semeton lainnya".

Pelangkiran berasal dari kata "langkir" artinya tempat memuja; yang malinggih di pelangkiran kamar tidur adalah Sang Kanda Pat yaitu : kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa yang senantiasa menyertai diri kita sejak di kandungan sampai mati bahkan sampai Atman kita menghadap Sang Pencipta.

Mereka adalah : 1. Yeh Nyom yang menjadi Bhuta Anggapati berkedudukan di kulit. 2. Darah yang menjadi Bhuta Prajapati berkedudukan di darah. 3. Ari-ari yang menjadi Bhuta Banaspati berkedudukan di daging. 4. Lamas yang menjadi Bhuta Banaspatiraja berkedudukan di urat.

Dalam lontar "Aji Maya Sandhi" disebutkan ketika manusia sedang tidur maka Kanda Pat itu keluar dari tubuh manusia dan bergentayangan, ada yang duduk di dada, di perut, di tangan dsb. sehingga mengganggu tidur manusia; oleh karena itu perlu dibuatkan pelangkiran untuk stananya agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai "penunggu urip".

Jika itu dilaksanakan maka manusia akan tidur dengan tenang dan nyenyak karena sudah ada yang menjaga dari segala bentuk gangguan roh jahat. Di dalam pelangkiran itu letakkan tegteg daksina sebagai linggih mereka berempat, dan setiap purnama diperbaharui.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : http://pasektangkas.blogspot.com/2007/11/pelangkiran.html
 

Gayatri, Ibu dari Semua Mantra


Om Swastiastu
"Sebelum dibaca postingan puniki, mohon bantuannya untuk melike Fanspage/halaman puniki dengan mengklik like/suka di pojok kanan atas dan jika dirasa bermanfaat bisa dishare ke semeton lainnya".

Oleh : LR Sabharwal

Para rishi Veda, para bijak dan sarjanawan telah menyanyikan keagungan dari Mantra Gayatri: Aum bhur bhuvah svah tat savitur varenyam, bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah prachodayat.
Doa adalah umum bagi semua agama. Cinta untuk Tuhan adalah hal yang universal, model atau metodenya bisa berbeda karena setiap orang bebas berdoa pada Tuhan dengan cara mereka sendiri. Doa bisa diterima semuanya, sederana dan mudah diadaptasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya, orang-orang mengikuti jalan doa yang dipraktekkan dalam keluarga. Mantra Gayatri dan doa yang lainnya sebaiknya diucapkan dengan ketulusan dan untuk ungkapan cinta kepada Tuhan.

Mantra Gayatri merupakan doa universal. Mengucapkan doa tersebut membawa ke arah kebijaksanaan dan tindakan yang baik. Mantra ini bisa diucapkan kapan saja, siang hari atau sebelum atau sesudah menyelesaikan pekerjaan. Warisan terbesar kita, mantra ini juga dikenal sebagai Guru Mantra, Mantra Savitri, dan Maha Mantra. Mahatma Anand Swami Saraswati di Anand Gayatri Katha telah menjelaskan arti dan pentingnya mantra ini dengan perincian yang bagus: “Jika kita ingin melantunkan Gayatri, kita harus menghilangkan kebencian dari pikiran kita, dan melepaskan semua perasaan cemburu dan permusuhan; hanya dengan demikian kita bisa mencapai keadaan bahagia. Penderitaan memang ada dalam kehidupan dan jika kita kehilangan kesabaran dan keseimbangan mental kita, kita akan memendam pikiran mementingkan diri sendiri. Itu adalah pikiran yang mengganggu kita. Hal tersebut merupakan inti yang membawa duka cita dan itu pula yang membawa kegembiraan kita. Jadi hidup bisa menjadi surga atau neraka, hasil dari pikiran. Dunia ini adalah apa yang kita pikirkan.”
Sebagai individu kita harus menciptakan jenis lingkungan yang tepat di sekitar kita. Sehingga, kita berdoa dengan mantra Gayatri: “Oh Tuhan, tuntunlah intelek dan pemahaman kami ke arahMu. Bermurah hatilah pada kami sehingga cintaMu bisa berkembang di hati kami, dan kami selalu mengetahui Engkau selalu bersama kami.”
Aum merupakan salah satu nama Tuhan. Aum merupakan jalan menuju pembebasan jiwa dan itu merupakan penopang jiwa. Tuhan disebut sebagai Bhu karena Dia menopang semua kehidupan di alam semesta. Dia lebih sayang kepada kita daripada kehidupan. Tuhan disebut sebagai Bhuvah karena Dia bebas dari semua kesedihan. Jiwa manusia menjadi bebas dari semua penderitaan dalam pertemananNya. Tuhan disebut Svahakarena Dia berada di seluruh alam semesta dengan semua bentuk dan warna yang berbeda-beda dan memeliharanya. Savitah merupakan nama lain dari Tuhan. Dia adalah pencipta alam semesta. Dia menganugerahi kita semua kekuatan. Kita menyebut Tuhan sebagai Devah karena menganugerahi semua kebahagian pada kita, semua inspirasi untuk mencapaiNya. Dengan itu semua, Dia adalah Varenyam, dia adalah yang terbaik dari segalanya.
Mantra Gayatri bisa membuat kita mampu melakukan kerja keras, merencanakan kehidupan dan mengatasi kesulitan hidup. Kata “Gayatri” berarti berdoa dan melantunkan kebesaran Tuhan untuk mengarahkan intelek kita dengan arah yang jujur dan tepat. Mantranya bukan obat untuk penyakit.
Mantra Gayatri memperindah intelek kita, membantunya mencari jalan yang benar. Dr. Radhakrishnan mengatakan: “Gayatri merupakan pemberi anugerah kehidupan yang baru dan merupakan doa yang unik. Tagore menerima mantra ini sebagai sesuatu yang agung dan sederhana yang memiliki kekuatan untuk membangun India.”
Gayatri merupakan mantra yang menuntun kemampuan berpikir kita pada keadaan yang sulit. Mantra ini merupakan mantra yang sederhana yang bisa diucapkan setiap hari oleh siapa saja, tanpa memandang umur, ras, kelompok, jenis kelamin atau agama. Gayatri bisa memperbaiki pemikiran dan penilaian kita, memberikan kita pengendalian diri terhadap rasa khawatir dan emosi, mengembangkan kebulatan tekad, percaya diri, kedamaian batin dan kemakmuran. Meditasi pada Mantra Gayatri menenangkan pikiran yang terganggu.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : http://canangsari.net/2013/06/gayatri-ibu-dari-semua-mantra/
 

Pengantar Kepada Agama Hindu

Om Swastiastu
"Sebelum dibaca postingan puniki, mohon bantuannya untuk melike Fanspage/halaman puniki dengan mengklik like/suka di pojok kanan atas dan jika dirasa bermanfaat bisa dishare ke semeton lainnya".



AYAH, BOLEHKAN AKU BERTANYA KEPADAMU?

Tentu saja.
AKU AKAN MENGAJUKAN BANYAK PERTANYAAN KEPADA AYAH MENGENAI AGAMA KITA
Silahkan ajukan pertanyaan yang kamu inginkan

DARIMANA SAYA HARUS MULAI?
Mulai dengan pertanyaan pertama yang muncul dalam pikiranmu
OK. APAKAH AKU, SEORANG HINDU?
Tentu. Kita memeluk agama Hindu, karena itu kita disebut orang Hindu, sama seperti orang yang mengikuti agama Kristen disebut Kristen. Dilihat dari satu sisi, agama Hindu adalah suatu upaya pencarian kebenaran tanpa kenal lelah. Sebagai demikian ia adalah agama untuk selamanya. Hanya ada satu Tuhan dan satu kebenaran. Weda-weda menyatakan, "Ekam Sat, Viprah Bahudha Vadanti." (Hanya ada satu kebenaran, hanya manusia menjelaskan hal ini dengan cara berbeda). Karena itu seorang Kristen, seorang Hindu, seorang Muslim dan seorang Jahudi semuanya satu dan sama. Dilihat dari sisi lain, Hinduisme bukan agama tapi satu cara hidup (a way of life). Hanya demi argumentasi, kita dapat mengatakan bahwa andaikata semua kitab suci Hindu dihancurkan pada suatu hari, agama yang sudah ada sejak zaman dahulu kala ini akan hidup kembali dalam hanya beberapa tahun, karena ia hanya mencari kebenaran yang mutlak.
AYAH, SEBELUM AKU MELANJUTKAN, AKU INGIN MENGINGATKAN ANDA BAHWA AKU ADALAH SE ORANG REMAJA YANG LAHIR DI USA, JADI BEBERAPA DARI PERTANYAANKU MUNGKIN TERDENGAR AGRESIF. AKU HARAP ANDA TIDAK TERSINGGUNG.
Nak, kamu dapat bertanya mengenai apapun yang kamu inginkan. Anggaplah dirimu jaksa penuntut umum, menginterogasi ayah di kursi saksi. Percaya padaku, tidak akan ada petanyaanmu yang menyinggungku. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu selangsung mungkin. Aku tidak akan pernah membalasmu dengan jawaban balas dendam. Lagi pula, aku akan menyertakan ide-ide tentang agama lain dan ilmu pengetahuan dalam jawabanku. Aku harap kamu akan puas.
SEJUJURNYA, DAPATKAH AGAMA HINDU MENGHADAPI INTEROGASI?
Agama Hindu tidak mempunyai masalah menghadapi pertanyaan apapun. Ia tidak perlu bersembunyi dibalik kata-kata Sansekerta yang sulit diucapkan atau dogma spiritual. Sebaliknya ia menyerap ide-ide baru seperti sepon.
Percaya atau tidak, agama Hindu memperkuat dirinya kembali (recharge) dengan pikiran-pikiran modern. Teknologi, psikologi, parapsikologi, astronomi modern, phisika baru dan genetik semua memperkaya agama Hindu.
Dalam agama Hindu kamu dapat berpikir dan berargumentasi mengenai subyek apapun. Kamu bahkan dapat menyatakan "tidak ada Rama maupun Krishna" dan kamu masih tetap seorang Hindu. Agama Hindu tidak memiliki hierarki, tidak memiliki satu badan yang mengatur orang Hindu.
Dalam agama Hindu kita akan jarang menemukan pernyataan dengan "Engkau tidak akan" (Thou shall not). Ketika kamu mempelajari agama Hindu kamu akan menemukan agama ini dipenuhi dengan berbagai jenis ide. Dia memiliki Advaita dan Raja Yoga yang memiliki spiritualitas yang tinggi pada satu sisi dan philafat Charvaka materialistik dan hedonistik yang tidak percaya pada Tuhan dan Weda, pada sisi yang lain, Pada satu sisi pemujaan citra adalah satu bagian dari agama Hindu, dan pada sisi lain, sebagaimana dikatakan oleh philsuf Jerman Max Muller, "Agama Weda tidak mengenal patung.". Jahala Upanishad mengatakan, "Citra dimaksudkan hanya sebagai alat bantu meditasi bagi orang yang bodoh."
Mitologi kuno Hindu dipenuhi dengan berbagai macam cerita. Pada satu sisi, Advaita hanya berbicara mengenai Brahman (Yang Tak terbatas), dan lagi pada sisi yang lain, mitologi bicara mengenai ribuan dewa-dewa. Hindu sesungguhnya adalah kesatuan dalam perbedaan. Mengambil satu subyek secara acak (random) dari kitab suci Hindu akan membingungkan kamu. Tapi bila kamu duduk dan mempelajarinya semua, kamu akan mampu memahami kebenaran yang sejati dalam semua kitab-kitab suci Hindu itu. Dewasa ini banyak tersedia buku-buku agama Hindu dalam bahasa Inggris dan lainnya sehingga pengetahuan bahasa Sansekerta bukan suatu keharusan untuk mengerti kitab-kitab suci Hindu
AYAH, SEBELUM ANDA MENJELASKAN LEBIH LANJUT, AKU INGIN MENGAJUKAN SATU PERTANYAAN YANG KRITIS. MOHON JANGAN TERSINGGUNG. PERTANYAANKU ADALAH, WEWENANG APA YANG ANDA PUNYAI UNTUK BERBICARA TENTANG AGAMA HINDU?
Saya senang kamu mengajukan pertanyaan ini. Arjuna, pangeran-ksatria dalam epik Mahabarata, mengajukan pertanyaan yang sama kepada Krishna selama pemaparan Bhagawad Gita, kitab suci Hindu itu. Krishna, sebagai jawaban atas Arjuna, menunjukkan swaroopa (Bentuk dari Yang Tak Berbentuk yang Agung) dan Arjuna yang terkagum-kagum menyaksikan seluruh alam semesta bergerak dalam badan Tuhan. Arjuna mendapat jauh lebih banyak jawaban dari yang dimintanya. Well, aku tidak dapat menunjukkan kepadamu hal seperti itu untuk membuktikan pendapat-pendapatku.
Kamu boleh tertawa, tapi karena bahkan Arjunapun menanyakan kewenangan Krishna, adalah tepat sekali bagimu untuk mengajukan pertanyaan yang sama. Pada sisiku, aku hanya dapat mengatakan bahwa aku hanyalah seorang pencari kebenaran yang sederhana seperti banyak orang lain. Tentu saja aku telah membaca banyak buku (kurang lebih 500) mengenai agama Hindu dan semua agama-agama lain. Maksudku hanyalah untuk meletakkan di hadapanmu sejarah dari agama Hindu dan hal-hal penting yang lain mengenai agama Hindu. Setelah mendengar jawabanku, kamu pada bagianmu sendiri harus menginvestigasi kebenaran dari pernyataanku. Pada saat ini, ijinkan aku mengulangi satu stanza dari kitab suci
- Tiada seorangpun tahu apa yang benar dan apa yang salah;
- Tiada seorangpun tahu apa yang baik dan apa yang buruk;
- Ada satu dewa yang bersemayam dalam dirimu;
- Temukan dan ikuti perintah-perintahnya.
Itulah jawabanku. Mohon dimengerti bahwa dewa yang disebut dalam stanza di atas tidak lain adalah "suara hati nurani" (inner voice) mengenainya Aurobindo, mistikus modern Hindu telah menulis berpuluh buku. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa semua jawaban final adalah di dalam. Seperti seorang guru Zen, aku ingin mengatakan bahwa mencari jawaban di luar diri adalah sia-sia dan bodoh. Buddhis Zen mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat diajarkan melalui kata-kata yang keluar dari mulut dan bahwa pengetahuan yang sejati hanya datang dari pengalaman pribadi.
Sekali lagi please, jangan ambil stanza di atas sebagai lampu hijau bagi perilaku tak bermoral dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan perintah emosi. Emosi dalam diri kita sangat menipu. Emosi itu bisa keluar dengan otoritas intelektual dan membuat setiap tindakan buruk kelihatan memiliki arti. Emosi itu bahkan menipu maharesi besar untuk mempercayai sentimen egoistik pribadi mereka dan bertindak dengan sangat bodoh. Maka hati-hatilah dengan stanza yang aku kutip di atas.
APAKAH AGAMA HINDU SATU-SATUNYA JALAN UNTUK MENCAPAI TUHAN (GOD-REALIZATION)?
Satu hari seorang gentelman berkata kepada seorang Philsuf Amerika yang terkenal bahwa ia telah mempelajari hampir semua philsafat dan agama-agama dunia, dan ia akhirnya yakin bahwa agama Kristen sesungguhnya merupakan satu-satunya philsafat dan agama yang benar. Emerson (Ralph Waldo) menjawab : "Itu hanya menunjukkan, my friend, bagaimana sempitnya anda membaca mereka." Pernyataan yang sama juga berlaku bagi agama Hindu. Tiada seorangpun mempunyai hak untuk mengatakan agama Hindu adalah satu-satunya jalan. Sesungguhnya, orang-orang Hindu akan merasa absurd untuk mengatakan bahwa agama-agama lain di dunia ini sebagai palsu.
Bagawad Gita (4:11) berkata, "Jalan manapun yang ditempuh manusia untuk mendekati Aku, dengan jalan itu Aku terima mereka; jalan manapun yang mereka pilih pada akhirnya mereka akan mencapai aku." Dari sloka ini, setiap orang dengan mudah mengerti bahwa agama Hindu tidak memproyeksikan dirinya sebagai satu-satu jalan untuk pengejawantahan Tuhan. Agama Hindu tidak mengklaim monopoli atas kebijaksanaan. Agama Hindu mentoleransi semua bentuk pemikiran. Seorang Yogi Hindu tidak akan pernah mencoba untuk mengkonversi seseorang dari agama lain ke dalam agama Hindu. Sebaliknya ia malah akan mencoba orang tersebut setia kepada agamanya. Bagawad Gita menyatakan :
"Dalam bentuk apapun seorang bhakta menyembahKu dengan yakin, Aku akan membuat ia setia dalam bentuk itu sendiri." Jadi dalam agama Hindu, kamu dapat memuja Yang Maha Kuasa, yang tidak berbentuk dan abadi, sebagai Krishna, Rama, Hyang Widhi atau yang lain. Selama kamu memiliki keyakinan dalam bentuk Yang Kuasa itu, kamu akan mengikuti satu agama yang benar dan kamu pada akhirnya akan mencapai kebenaran, sekalipun kamu mengikuti bentuk pemujaan yang kasar. Menurut agama Hindu tiada seorangpun akan tersesat.Melalui jalan manapun seorang mencari Tuhan, dia akan selalu berada di jalan Tuhan.
Bila seseorang menyebut "Itu" (It) Krishna, "Itu" akan datang sebagai Krishna. Bila seseong menyebut "Itu" Rama, dia akan datang sebagai Rama. Bahkan bhakta Hindu yang paling terkenal, Maharesi Narada, dalam Sutra kedua dari Narada Bhakti Sutra, menyebut Tuhan dengan nama Asmin, artinya "Itu (That, Tat)." Kaum mistikus Muslim yang besar, kaum Sufi, mengatakan, "Kemanapun kamu memalingkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah."
Dalam semua bentuk pemujaan, pada akhirnya sang pemuja akan mengatasi (transcend) nama dan bentuk dari Tuhan pribadinya (personal God, Istadewata, pen). Lihatlah tulisan-tulisan dari Chaitanya, Sri Ramakrishna Paramahamsa, St. Francis dari Asisi, atau para mistikus Sufi.. Chaitanya menyeru Vital dan Ramakrishna menyeru Ibu Kali. Tapi kita mempelajari semua karya-karya di atas, kita dapat melihat bahwa yang Mutlak yang mereka cari atau ikuti tidak memiliki nama dan berada di luar kemampuan manusia untuk menggambarkannya. Semua dari mereka mulai dengan mengikatkan diri mereka pada satu Istadewata (personal God) dan berakhir dengan satu Yang Maha Kuasa yang abadi dan tidak berbentuk.
Kata Islam berarti pasrah kepada kehendak Allah," dan Allah tidak memiliki definisi yang tepat. Seorang Muslim sejati menyembah Allah yang tidak bernama dan berbentuk, yang sesungguhnya Kekuasaan Yang Tertinggi. Kaum Muslim keberatan dengan sebutan "Mohammedanism" karena kata itu mengandung arti pemujaan kepada Mohammad. Kaum Muslim tidak pernah memuja Muhammad. Seluruh orang Muslim percaya pada kalimat sahadat : "Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya." Allah adalah seperti Tao dari Taoisme, Brahman dari agama Hindu, Ayin dari mistik Yahudi Kabblah, atau Jehovah (Aku, I Am) dari Perjanjian Lama. Dia tidak bernama, tidak dapat didefinisikan, kekuatan atau mahluk murni dari mana segala sesuatu berasal.
Tidak ada agama yang memiliki hak monopoli atas Tuhan. Mengatakan itu persis sama dengan mengatakan "Matahari hanya terbit di New York dan (hanya) terbenam di pantai Honolulu. Matahari yang bersinar di kolam-kolam rumah-rumah besar (mansion) di Berverly Hill dan New York juga bersinar di kampung-kampung kumuh di Kalkuta atau Jakarta di gurun-gurun pasir di Arab. Sama halnya, Tuhan yang kamu lihat dalam Bagawad Gita adalahTuhan yang sama yang kamu lihat dalam Injil atau Al Quran
APAKAH AGAMA HINDU PERCAYA DENGAN KONVERSI SECARA PAKSA?
Sama sekali tidak. Seorang penganut Hindu sejati tidak akan melakukan proselitasi (mencari pengikut baru dari orang-orang yang sudah beragama lain), tapi orang-orang Hindu dengan gembira akan menerima setiap orang yang ingin masuk Hindu karena mencintai nilai-nilai atau ajaran Hindu. Bagawad Gita mendesak semua orang untuk mengikuti agama dimana orang itu lahir. Orang-orang Hindu tidak pernah membuat janji-janji palsu kepada orang yang baru masuk Hindu.
Sama seperti orang Hindu, orang-orang yang beragama Yahudi juga toleran terhadap keyakinan lain. Orang-orang Yahudi juga tidak pernah membujuk orang lain untuk ikut agama mereka. Tentu saja banyak orang lain yang masuk agama Yahudi, tetapi orang-orang Yahudi tidak pernah mempropagandakan agama mereka secara aktif. Untuk sebatas tertentu, sama seperti agama Hindu, agama Yahudi juga merupakan satu cara hidup (a way of life)
Lagipula orang Hindu melihat agama sebagai satu ilmu dasar (basic science). Pernahkah kamu mendengar seseorang dikonversikan kedalam ilmu kimia India, Phisika Inggris? Karena itu akan terasa absurd bahkan hanya untuk membicarakan konversi. Hanya ada satu kebenaran. Semua dari kita memiliki hak yang sama terhadap kebenaran itu, sama halnya kita memiliki hak yang sama terhadap Effect Raman India, Teori Quantum dari Yahudi-Jerman Einstein, atau percobaan Edison yang orang Amerika. Bagawad Gita, Injil, Torah, Quran, Dammapada, dan kitab suci lainnya terbuka bagi semua orang.
Semua kita memiliki hak yang sama untuk mengutip Krishna dan Lao-Tse dan Socrates dan Mohammad dalam kalimat yang sama. Sama seperti ilmu pengetahuan yang terbuka bagi setiap orang, demikian juga semua agama.
APAKAH AGAMA HINDU TOLERAN TERHADAP AGAMA-AGAMA LAIN?
Dalam agama Hindu, toleransi bukan hanya sekedar soal kebijakan tetapi merupakan satu keyakinan dasar (an article of faith). Sejarahwan seperti H.G. Wells mengatakan bahwa raja-raja Hindu sesungguhnya menerima dengan tangan terbuka misionaris Kristen, kaum fakir Islam dan biksu Buddha untuk pertukaran pikiran yang bebas. Sebenarnya, raja Hindu terbesar, Ashoka (269-232 SM), mengganti agamanya menjadi Buddhis dan menyebarkan agama Buddha ke seluruh India. "Hukum Dharma" atau kebenaran dan inskripsi epigrafi yang ditinggalkan oleh Ashoka di berbagai batu karang dan pilar di seluruh India sama bersejarahnya dengan "Bill of Rights" dari USA. Anakku, bila kamu ingin belajar mengenai satu-satunya raja di seluruh sejarah India, maka raja itu adalah Raja Ashoka. H.G. Wells, yang tidak pernah memberikan pujian kepada raja manapun dalam buku sejarah dunia yang ditulisnya, membuat satu pengecualian mengenai Ashoka dan menulis, "nama Ashoka bersinar terang sendirian, satu bintang dalam sejarah dunia."
Salah seorang rasul Kristen terbesar, Saint Thomas, datang ke Madras India untuk menyebarkan agama Kristen di India, dan meninggal di Mylapore, Madras. Adalah fakta bahwa pada tahun 70 AD, ketika orang-orang Roma menjadikan orang-orang Kristen sebagai makanan singa di Eropa, di Kerala orang-orang Kristen menyembah Saint Thomas di gereja. Bahkan dewasa ini, ketika orang-orang Yahudi dianiaya di seluruh dunia, di Cochin, India, mereka memiliki kebebasan tak terbatas untuk beribadah di Synagoge. (Orang Yahudi datang ke India pada abad 5 A.D). Sesungguhnya banyak orang Yahudi yang dikirim ke Israel dari Kerala telah kembali lagi ke India karena ini adalah negeri yang sangat toleran. Dewasa ini, ketika orang Yahudi tidak boleh dikonversi menjadi Kristen di Israel, ketika orang tidak boleh membawa Injil di Arab Saudi, dan ketika orang Muslim tidak boleh dikristenkan di Malaysia, ribuan orang Hindu di India dikonversi menjadi Kristen. India kini memiliki seminari Katolik yang terbesar di dunia - hampir 3,856. (Dewasa ini ada gerakan dari organisasi Hindu untuk mengkonversi kembali orang-orang Hindu yang beralih agama sebelumnya. Missi Kristen sering menimbulkan ketegangan dengan orang-orang Hindu di India. Tahun lalu satu keluarga missi Protestan dari Australia dibunuh dalam mobilnya. Orang-orang Hindu di India kini tampaknya menyadari toleransi tidak berarti menerima segalanya. Sikap toleran tanpa batas ini merugikan orang-orang Hindu sendiri. Seperti dikatakan oleh philsuf besar Hindu, Sarvepalli Radhakrishnan, Hindu menderita karena toleransinya, pen).
Seorang penganut Hindu sejati tidak pernah mencerca agama lain. Dia menerima kebenaran yang ada pada setiap agama. Seorang suci Hindu dengan bahagia membaca Bible atau Quran pada para pengikutnya. Swami Vivekananda berkata, "Saya bangga menjadi pemeluk satu agama yang mengajarkan kepada dunia toleransi dan penerimaan universal. Kita percaya tidak hanya pada toleransi universal, tapi kita menerima bahwa semua agama sebagai benar. Seperti sungai yang berbeda yang memperoleh mata air mereka di sumber yang berbeda, semuanya menjadi satu di samudera, demikianlah jalan yang berbeda yang dijalani oleh tiap orang dengan kecenderungan yang berbeda, sekalipun beragam tampaknya, bengkok atau lurus, semua menuju Tuhan."

AYAH, APAKAH ORANG HINDU DIIJINKAN MEMPELAJARI AGAMA-AGAMA LAIN?
Tentu saja, anakku. Agama Hindu tidak saja mengijinkan tapi sesungguhnya mendorong kita untuk mencari kebenaran dari segala sumber. Agama Hindu secara tegas melarang perbandingan dari metoda-metoda lain untuk penggejawantahan Tuhan (God realization), karena semua metoda adalah benar dan semua membawa para pemuja pada Tuhan. Setelah mempelajari agama Hindu dengan baik, seorang Hindu harus membaca dan mempelajari semua agama-agama lain yang benar. Dengan demikian dia melihat agama Hindu sebagai ensiklopedi dari agama-agama. Bila seorang mengetahui agama Hindu dengan baik, maka Bible, Quran dan Adi Grantha (kitab suci agama Sikh) akan menjadi bacaan menarik.
Salah satu dari Purana Hindu yang besar, Srimad Bhagawatam mengatakan, "Seperti lebah madu mengumpulkan tetesan madu dari bunga-bunga yang berbeda, orang bijaksana menerima saripati dari kitab suci yang berbeda dan melihat hanya hal-hal yang baik dalam semua agama." Dengan ideologi semacam itu, seorang Hindu seharusnya terdorong untuk membaca semua buku-buku agama-agama dunia.
AYAH, APAKAH AGAMA HINDU MEMPUNYAI PAUS?
Tidak. Seperti telah aku katakan sebelumnya, dalam agama Hindu tidak ada hierarki jabatan. Seorang dari maharesi zaman dulu, Adi Sankara, mendirikan 4 pertapaan di sudut-sudut India yang berbeda, yang secara populer dikenal dengan nama Sankaramath. Pertapaan itu ada di Sringeri (Mysore), Badrinath (Himalaya), Dwaraka (Gujarat) dan Puri (Orissa). Pendeta kepala pada tiap pertapaan itu disebut Sankaracharya, dan para pendeta di pertapaan itu mengajarkan seluruh aspek agama Hindu kepada orang Hindu. Tentu saja, pertapaan ini tidak mempunyai kekuasaan untuk mengatur kehendak pribadi dari orang Hindu. Ada banyak pertapaan di India di luar dari empat yang aku sebutkan di atas. Semuanya bebas satu sama lain, semua mengajarkan nilai-nilai dan cita-cita Hindu dengan cara-cara mereka sendiri tanpa mengkeritik yang lain.
Tiada seorangpun di keluarkan dari agama Hindu (excommunicated), dan tidak seorangpun dihukum (karena memiliki pemikiran yang berbeda,pen) dalam agama Hindu. Agama Hindu pernah memiliki orang-orang revolusioner seperti Buddha (yang menolak mengakui otoritas Weda-Weda) dan Adi Sankara (yang menyebarkan phalsafah Advaita), tapi agama Hindu tidak pernah memiliki Martin Luther dan tidak akan pernah, karena agama Hindu terbuka terhadap segala macam kritik dari segala arah.
AYAH, APAKAH MUNGKIN MENGEKSPRESIKAN "KEBENARAN YANG HALUS (SUBTLE TRUTHS)" DALAM BAHASA YANG SEDERHANA? DAPATKAH PIKIRAN MANUSIA MENYADARI KEBENARAN TERAKHIR (ULTIMATE TRUTHS)?
Aku menjawab "tidak" untuk pertanyaanmu. Agama Hindu dimulai dengan Sruti, "itu yang terdengar". Guru-guru zaman Weda yang seperti Kristus, yang disebut Rishi, mendengar kebenaran abadi dalam hati dan pikiran mereka dan mengajari para murid mereka secara telepathi, melalui transfer pikiran yang sebenarnya. Baru kemudian bahasa seperti Sansekerta dan Pali muncul. Untuk jangka waktu yang sangat lama belum ada teks tertulis. Weda-Weda dan Upanishad diajarkan melalui sloka-sloka yang dinyanyikan (chanted lyrics)
Kita tahu bahwa pikiran adalah media yang paling baik untuk mewujudkan ilmu pengetahuan, tapi karena kita tidak dapat mentransfer pikiran, kita mengungkapkannya dalam bahasa-bahasa. Bahasa verbal lebih baik dari bahasa ucapan dalam menyatakan pikiran-pikiran. Sansekerta, Pali, Latin, Yunani dan Ibrani dipergunakan untuk menyatakan pikiran-pikiran di zaman dahulu. Dikatakan bahwa konon Jesus berbicara dalam bahasa Armenia dan beberapa tahun setelah penyalibannya Perjanjian Baru ditulis dalam tiga bahasa : Ibrani, Aramaic dan Yunani. Perjanjian Baru masih memelihara beberapa pernyataan dalam bahasa Aramaic seperti "Eli, Eli, Lama Sabachthani" - "Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku ("My God, my God, why has Thou forsaken me?") (Matthew 27:46). Dalam abad 15, versi pertama Injil dalam bahasa Inggris ditulis oleh William Tyndale (1525). Malangnya, dia dituduh bidaah (menghujat Tuhan) dan kemudian dibakar hidup-hidup di tiang pancang.
Setelah Tyndale, berturut-turut tujuh versi Injil ditulis dalam bahasa Inggris, versi terakhir, versi King James, yang paling populer, dikompilasi oleh sejumlah besar teolog dibawah pimpinan Raja James dari Inggris dalam tahun 1611. Malangnya, bahkan edisi pertama dari versi King James ini mengandung lebih dari 300 kesalahan di dalamnya (How We Got the Bible, Neil R. Lighfoot). Ini hanya menunjukkan bagaimana sulitnya menuliskan pikiran dalam kata-kata. Terpisah dari itu, Injil itu penuh dengan angka-angka simbolis. Misalnya, 666 adalah untuk Antikristus dan 12 adalah untuk kemampuan spiritual. Semua hal-hal baik diasosiasikan dengan angka 12 : duabelas rasul, duabelas anak Jacob, duabelas suku Israel, duabelas pintu surga, dst. Dengan dasar simbolisme seperti itu, terjemahan Injil akan menjadi lebih sulit lagi.
Dewasa ini bahasa Inggris dipergunakan oleh masyarakat secara luas - vokabolarinya sudah berkembang demikian maju, dan menjadi alat utama untuk menyampaikan pikiran-pikiran. Jadi bahasa Inggris mungkin satu-satunya bahasa di dunia yang dapat menyampaikan kebenaran dalam bentuk yang dapat dimengerti. Kita beruntung, kita juga mempunyai matematika, phisika dan ilmu lainnya yang membantu kita untuk memahami kebenaran yang halus dewasa ini.
Lagipula, pengertian adalah suatu yang sangat pribadi. Misalnya, "E=mc2" mungkin hanya beberapa huruf bagi orang biasa, tapi bagi mahasiswa sains angka itu berbicara banyak sekali. Jadi kebenaran abadi hanya dapat dimengerti bila kita berkembang cukup tinggi untuk memahaminya. Ini juga benar untuk agama Hindu, Kristen, Islam dan agama-agama lain.
Taoisme mengatakan bahwa impresi (kesan) dari kehidupan tidak dapat disampaikan dengan kata-kata. Mistikus China Lao-Tse mengatakan, "Dia yang tahu tidak pernah mengatakan. Dia yang mengatakan tidak pernah tahu." Ini menunjukkan bahwa kebenaran yang halus memang sulit sekali untuk dinyatakan dengan kata-kata, karena kata-kata akan mencoba membatasi ukuran mereka. Adalah benar untuk menyimpulkan bahwa pikiran manusia tidak akan pernah dapat membayangkan kebenaran terakhir dari alam semesta.
Memang Einstein mencoba untuk mengembangkan "a unified field theory" (apa terjemahannya ini? pen.) untuk menjelaskan teka-teki dari alam semesta, tapi ia gagal dengan sangat menyedihkan.. Akhirnya ia mengakui kekalahannya dan berkata ; "Pikiran manusia tidak mampu memahami alam semesta. Kita seperti anak kecil memasuki perpustakaan yang maha besar." Gauthama Buddha dengan jelas mengatakan bahwa hanya dengan mengatasi eksistensi manusia, seseorang dapat memahami realitas tertinggi. Itulah mungkin alasannya mengapa Buddha, yang meninggalkan negara sebagai seorang pangeran muda untuk memperoleh penyembuhan yang cepat (instant remedy, obat mujarab) bagi usia tua dan kematian, kembali dengan delapan jalan ke Nirwana yang terkenal. Andaikan ada jawaban siap pakai bagi teka-teki alam semesta, guru-guru agung seperti Buddha sudah pasti akan menyerahkannya kepada dunia. Karena jawaban-jawaban mereka samar-samar (ambiguous) bagi hampir semua dari kita, kita harus menghadapi kenyataan bahwa kebenaran terakhir ada di luar pikiran dan di luar persepsi dualitas.
Dewasa ini, terikat pada kursi rodanya, tidak mampu bicara karena dilumpuhkan oleh satu penyakit yang tak dapat disembuhkan, ahli phisika Inggris yang besar Stephen Hawking mencari Grand Unification Theory (sekali lagi, apa ini terjemahannya, teman-teman phisikawan mungkin bisa bantu, pen.) yang akan menjelaskan semua teka-teki alam semesta. Apakah ia akan berhasil? Apakah ia akan sanggup membuka kunci misteri alam semesta? Ini sebuah pertanyaan yang berharga satu miliar dolar. Alam semestanya Isaac Newton sudah sempurna, linear dan dapat diduga. Alam semestanya Einstein jadi agak tidak dapat diduga dan mengambil satu pola gelombang (took on wave patterns, nah ini lagi?pen.). Para ilmuwan dewasa ini menyatakan bahwa alam semesta agak kacau dan tak dapat diduga.
APAKAH AYAH BETUL-BETUL BERPENDAPAT BAHWA KATA-KATA DAPAT SALAH DITERJEMAHKAN DAN SALAH DIMENGERTI?
Ya memang. Karena kekurangan kata-kata dalam bahasa Aramaik, Kristus dipaksa menggunakan kata-kata seperti "Kerajaanku," dan "Aku adalah Raja" untuk menjelaskan kebenaran yang halus mengenai spritualitas kepada rakyat. Tapi kata-kata yang sama itu membuat orang-orang Roma marah, karena kerajaan" dan "raja" memiliki arti yang sama sekali berbeda bagi mereka.
Lihat pada kehidupan para Sufi. Seperti guru-guru Hindu yang sudah mendapat pencerahan mengatakan "Aku Brahman" (Jiwa), masing-masing dari mereka (para Sufi itu) mengatakan "Aku Tuhan". Tapi kaum fundamentalis Islam pada zaman itu tidak dapat menangkap makna sejati dari ucapan kaum Sufi besar itu, dan semua Sufi itu dihukum mati. Sepanjang sejarah kamu dapat menemukan banyak contoh dari kesalah-pahaman semacam itu yang disebabkan oleh kemiskinan vokabulari dalam bahasa. Kristus berkisah dengan parabel, dan kita juga mempunyai kisah-kisah mitologis untuk menjelaskan kebenaran yang halus dari alam. Aku rasa andaikata Krishna, Buddha atau Kristus datang kembali dewasa ini, mereka akan menggunakan elektron, DNA, elektromagnetik dan konsep-konsep ilmiah lain untuk menjelaskan kebenaran yang halus itu.

AYAH, APAKAH ANDA PIKIR SEJARAH DAN TRADISI MEMILIKI PERANAN PENTING DALAM SETIAP KITAB SUCI AGAMA?
Tepat demikian adanya. Sejarah agama Hindu berkembang secara amat perlahan. Itulah sebabnya mengapa dalam Rig Weda, kita melihat satu masyarakat nomad yang baru menetap di tepi-tepi sungai Indus, menyembah segala macam dewa-dewa alam dan mengatakan : "Pada akhirnya, siapa yang tahu, siapa yang dapat mengatakan dari mana semuanya ini datang dan bagaimana penciptaan terjadi?"
Lihatlah kitab suci yang paling tua, Manusmerti. "Hukum Manu" sesungguhnya adalah sejarah dari suatu masyarakat nomad yang berakar pada tepi-tepi Sungai Indus. Selama periode Rig Weda bangsa Arya selalu terlibat dalam peperangan, dan minum dan judi merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya mereka. Yang meminum Sura dikenal sebagai Para Sura atau Dewa, dan yang menolak meminum minuman ini dikenal sebagai Asuras. Kamu akan melihat bahwa Manu membatasi kebebasan manusia dalam berbagai cara. Dia juga meletakkan dasar-dasar sistem kasta.
Sama halnya, lihat dalam Exodus di Perjanjian Lama. Dalam menceritakan kepada kita eksodus dari orang Jahudi dari Mesir, kitab ini menggambarkan satu masyarakat yang mengampuni perbudakan. Perjanjian Lama adalah sejarah sebenarnya dari orang Jahudi pada zaman itu. Jadi saya sepenuhnya setuju dengan kamu, hampir semua kitab suci di dunia ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan tradisi.
APAKAH METAPORA MERUPAKAN SATU BAGIAN DARI KITAB SUCI?
Mungkin banyak yang tidak setuju denganku, tapi aku harus mengatakan bahwa metapora merupakan bagian utuh dari kitab suci semua agama. Penyair dalam diri orang suci telah mengambil bagian dan menulis ketentuan-ketentuan atau isi dalam hampir semua kitab suci agama-agama dunia. Kita akan segera menemukan baris-baris yang sama seperti "Pemakan Teratai" (Lotus Eaters) dari Tennyson dalam semua kitab suci agama-agama dunia.
Karena itu kitab-kitab suci agama-agama harus di scan untuk mendapat arti yang tepat dari pada mengangap benar setiap kata yang tertulis. Kita akan melakukan kesalahan yang amat besar kalau kita mencoba manganalisis arti harfiah dari kitab-kitab suci itu. Sesungguhnya, pada tanggal 14 Desember 1990, Paus Johanes Paulus II mengingatkan orang-orang Kristen atas penerjemahan secara literal dari Bible. "Buku-buku dari Bible memiliki Tuhan sebagai pengarang, tetapi manusia yang menyusun buku-buku itu juga adalah pengarang yang sebenarnya." Dia menambahkan bahwa arti esensial dari Bible akan hilang dalam terjemahan yang didasarkan secara tegas pada fakta-fakta yang dapat diamati.
APAKAH ANDA MENGATAKAN BAHWA ADA SEORANG PENYAIR DALAM SETIAP ORANG SUCI (NABI, RASUL, MAHARESI), DAN BAHWA SEMUA TULISAN-TULISAN DAPAT TERDIRI ATAS KEBENARAN DAN JUGA UNSUR-UNSUR DARI IMAGINASI ORANG SUCI ITU?
Kamu mengatakan hal itu dengan benar. Aku tidak akan dapat mengatakan dengan kata-kata yang lebih baik. Jadi semua kitab suci tidak harus diikuti kata demi kata, tapi kitab-kitab suci itu discan untuk menemukan kebenaran. Ini berlaku untuk agama Hindu dan semua agama lain termasuk agama Kristen.
AYAH, SIAPAKAH ORANG ATHEIS ITU? APAKAH ORANG ATHEIS DAN ORANG AGNOSTIK ITU SATU DAN SAMA?
Kata "theism" berarti "percaya pada Tuhan atau Dewa-Dewa." Jadi kata "atheism" berarti tidak adanya keyakinan akan Tuhan, atau keyakinan bahwa Tuhan atau Dewa-Dewa itu tidak ada dalam bentuk apapun. Jadi secara singkat, seseorang yang tidak percaya pada adanya Tuhan adalah seorang atheis.
Seorang agnostik, pada sisi lain, adalah seorang yang percaya bahwa ada sesuatu di luar pikiran manusia. Seorang agnostik mungkin percaya mungkin pula tidak percaya pada Tuhan. Jadi seorang agnostik bisa seorang theis atau seorang atheis. Istilah "gnostic" atau "agnostic" dibuat oleh philsuf-pemikir Thomas Huxley pada tahun 1869. "Gnostic" berasal dari akar kata "gnosis", artinya "mengetahui" (to know).
Penjelasan terbaik dari kedua istilah ini terdapat dalam Catholic Encyclopedia sebagai berikut : "Seorang agnostic bukanlah seorang atheis. Seorang atheis menolak keberadaan Tuhan, sesorang agnostik mengakui ketidak-tahuannya mengenai keberadaaan Tuhan. Bagi orang agnostik, Tuhan mungkin ada, tapi akal tidak dapat membuktikan keberadaan atau ketidak beradaanNya."
APAKAH ANDA HENDAK MENGATAKAN KEBANYAKAN ORANG ADALAH AGNOSTIK?
Saya hendak mengatakan beberapa intelektual agnostik, tapi pada saat yang sama, kebanyakan massa yang tidak terdidik adalah orang-orang beriman. Kebanyakan agama menggunakan ketakutan kepada Tuhan dan neraka untuk membuat rakyat percaya kepada agama itu. Tapi hal ini tidak akan pernah kamu temui dalam agama Hindu, dimana seorang yang percaya, seorang atheis dan seorang agnostik dapat hidup berdampingan dengan bahagia. Mari kita lihat kasus Bertrand Russell. Banyak yang melihat dia sebagai seorang atheis, tapi ia sesungguhnya seorang agnostik. Dia mempertanyakan segalanya tapi ia tidak pernah sampai pada satu kesimpulan. Satu-satunya kesalahan yang ia lakukan adalah menulis satu buku berjudul "Why I Am Not a Christian." Dia seharusnya tidak memberi judul bukunya seperti itu, sebab ia tidak memiliki hak untuk melukai perasaan jutaan pemeluk teguh agama Kristen di seluruh dunia. Dia seharusnya memberi judul bukunya "The Doubts I Have About World Religions." Itu akan menyelamatkan dia dari kritik-kritik yang tidak perlu dari berbagai pusat-pusat agama dan juga penolakan terhadap tugas mengajar di New York City College.
Bagaimanapun aku kira dia tidak pernah menulis bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena itu akan berlawanan dengan gayanya, menolak atau menyetujui sesuatu yang ia sendiri tidak memiliki ide atau definisinya. Russell tidak menolak Tuhan, karena ia tidak dapat mendefinisikan Tuhan. Dari sudut pandang agama Hindu, orang bisa menghormati dan mengagumi orang-orang seperti Russell, Freud dan Darwin.
Agama Hindu memiliki saham dalam atheisme dan agnotisme. Philsafat Charvaka dan pada sisi tertentu philsafat Vaisesika mempertanyakan keberadaan dari satu Tuhan personal (Saguna Brahman, pen). Reshi Kanada, pendiri dari philsafat Vaisesika, hanya menyebut Tuhan dengan "Itu" (That, Tat, pen) dalam seluruh tulisannya.
AYAH, APAKAH ANDA BERMAKSUD MENGATAKAN BAHWA SEORANG AGNOSTIK AKAN MENJADI AGNOSTIK UNTUK SELAMANYA?
Seluruh kitab suci Hindu menunjuk pada kenyataan bahwa agnotisisme merupakan titik awal dari pencarian kebenaran tanpa lelah. Sama seperti sesendok garam pergi mencari kedalaman sasmudra dan menjadi bagian tak terpisahkan dari samudera itu, seorang agnostik akhirnya akan menemukan kebenaran sejati bila ia tetap teguh dalam pencarian kebenaran itu. Tapi sama seperti Buddha, dia tidak akan sanggup menjelaskan kepada dunia kebenaran yang ia temukan,karena kebenaran itu berada diluar batasan atau perbandingan. Saya rasa kebanyakan agnostik akan menjadi pribadi seperti J. Krishnamurti dan Buddha, asalkan saja mereka tidak mencoba mencari jawaban-jawaban intelektual atas teka-teki alam semesta. Sebagai seorang anak yatim-piatu, Krishnamurti dipungut oleh mendiang Annie Besant untuk menjadi pemimpin besar dari Theosphical Society. Tapi bersama dengan berjalannya waktu Krishnamurti mengatasi (transcend) semua kedudukan dan kekuasaan dan mempertanyakan integritas dari segala sesuatu dalam setiap agama. Akhirnya ia menjadi sebuah lembaga sendiri dalam dirinya, tanpa ego setitikpun . Tentu saja, Krishnamurti bukan sama sekali agnostik. Dia adalah seorang ahli logika (logician) dengan kemampuan yang sangat besar. Jadi sejauh menyangkut agama Hindu, agnotisme adalah titik awal dari pencarian kebenaran tanpa kenal lelah.
AYAH, APAKAH ANDA PERCAYA PADA TUHAN?
Anakku, aku datang dari keluarga yang sangat religius dan karena itu aku percaya pada Tuhan dan kadang-kadang bahkan percaya pada Tuhan yang sangat bepribadi (Saguna Brahman). Kadang-kadang aku lihat Tuhan sebagai satu entitas (pribadi) tanpa perasaan atau kesadaran. Sesuai dengan tempat dan waktu, konsepku mengenai Tuhan berobah. Ketika aku masih remaja aku tidak mempunyai masalah dengan memvisualisasikan "Dia" sebagai Batara (Lord) Krishna, ketika aku menjadi lebih tua aku mulai melihat "Dia" sebagai sumber kekuatan, sesuatu di luar imajinasiku yang paling liar sekalipun. Tentu saja, aku tidak ada masalah mendengar seseorang yang menjelaskan "Dia" sebagai Batara Krishna atau Yesus atau Allah atau Jehovah atau Buddha atau sesuatu yang lain, tidak pula aku keberatan mendengar orang yang menjelaskan "Dia" sebagai suatu yang tanpa bentuk, tidak musnah, abadi, tidak lahir, entitas yang tidak terjelaskan. Satu hal aku tahu dengan yakin. Kita semua adalah bagian utuh dari alam. Kita hanya sekedar alat dari entitas atau energi atau kekuasaan yang tidak kita ketahui atau sesuatu yang tak dapat didefinisikan. Pada satu sisi kita hanyalah kumpulan dari bahan-bahan kimiawi, hanya rangkain DNA. Pada sisi lain kita adalah satu entitas yang memiliki kesadaran.
Sejujurnya, aku dalam kesesatan total (total loss) bilamana aku berpikir tentang Tuhan. Untuk memulai, aku tidak tahu harus mulai dari mana, dan makin banyak aku membaca tentang "Dia", makin banyak aku belajar tentang sains modern, makin sadar aku tentang Tuhan dan alam semesta. Itu tidak berarti bahwa agama mempunyai semua jawaban. Semua agama-agama dunia tidak menjelaskan secara tuntas banyak dari prinsip-prinsip utama mereka. Namun demikian, kekurangan jawaban-jawaban yang wajar membuatku menjadi manusia yang rendah hati. Dewasa ini, aku tahu dengan pasti bahwa kita hanya tahu sedikit sekali mengenai diri kita dan alam semesta. Source :   Ngakan Putu Putra      
Om Santih, Santih, Santih, Om

www.hindu-indonesia.com

Data dan Informasi yang disajikan ini merupakan reproduksi dari dokumen aslinya yang
berasal dari berbagai sumber. Jika ada karaguan mengenai isi agar
memperhatikan dokumen aslinya.
Copyright 1998-2009, hindu-indonesia.com, Kontak: Webmaster
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Om Swastiastu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger