Memahami Pengertian Pura Kawitan


Om Swastiastu
"Sebelum dibaca postingan puniki, mohon bantuannya untuk melike Fanspage/halaman puniki dengan mengklik like/suka di pojok kanan atas dan jika dirasa bermanfaat bisa dishare ke semeton lainnya".


Dilihat dari segi fungsinya, ada 2 (dua) jenis pura yaitu: Sebagai tempat memuja Hyang Widhi(Dewa Pratistha) dan sebagai memuja roh suci leluhur(Atma Pratistha).  Ditinjau dari sisi karakternya, pura dibagi lagi menjadi empat kelompok yaitu: Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina dan Pura Kawitan.
Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh suci leluhur dari umat Hindu yang memiliki ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis keturunannya. Jadi Pura Kawitan bersifat spesifik atau khusus sebagai tempat pemujaan umat Hindu yang mempunyai ikatan darah sesuai dengan garis keturunannya. Contoh-contoh pura yang termasuk dalam kelompok Pura Kawitan antara lain: Sanggah/Merajan, Pura Ibu, Dadia, Pedharman, dan yang sejenisnya.
Pura Panti dan Pura Dadia pada dasarnya berada pada kelompok dan pengertian yang sama. Artinya apa yang dimaksud dengan Pura Panti dapat pula disebut dengan Pura Dadia. Sama halnnya dengan sebutan sanggah dapat pula disebut dengan istilah merajan. Yang membedakannya hanyalah terletak pada jumlah penyiwi atau pemujanya.
Di dalam lontar sundarigama bahwa: Bhagawan Manohari, beliau beraliran Siwa mendapatkan tugas dari Sri Gondarapati, memelihara dengan baik Sad Kahyangan kecil, sedang dan besar, sebagai kewajiba semua orang. Setiap 40 pekarangan rumah(keluarga) disabdakan mendirikan panti, adapun setengah dari jumlah tersebut(20 keluarga) agar mendirikan Palinggih Ibu, kecilnya 10 pekarangan keluarga mendirikan palinggih Pratiwi(Pertiwi) dan setiap keluarga mendirikan Palinggih Kamulan(sanggah/merajan).
Diluar isi yang tersurat diatas tetapi masih termasuk dalam kelompok Pura Kawitan adalah Pedharman yang dipandang sebagai tempat pemujaan tertinggi untuk memuja leluhur. Apakah dalam satu pedharman umat Hindu saling mengenal satu dengan yang lainnya? belum tentu. karena keturunan yang sekarang adalah keturunan yang kesekian puluh kalinya dari leluhur yang bersangkutan. Tentu berbeda jika bersembahyang di Pura Kawitan yang tergolong sanggah sampai Pura Panti masih dapat saling mengenal karena akan lebih mudah menemukan hubungan keluarga dalam susunan keluarganya. Dewasa ini banyak umat Hindu yang berusaha mencari jejak silsilah atau asal muasal leluhurnya sampai keberadaannya. Hal ini tentu sangat positif untuk menumbuhkembangkan ajaran Pitra Puja dimana kita diwajibkan untuk selalu bhakti/menghormati kepada para leluhur yang telah suci(Atma Sidha Dewata).

Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : http://paduarsana.com/2012/08/06/memahami-pengertian-pura-kawitan/

Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Om Swastiastu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger